SAMPANG, Rommusa.com // Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan keterbatasan anggaran, Kabupaten Sampang justru mencetak kejutan. Pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025 melesat menjadi 3,45 persen, melampaui target RPJMD yang dipatok 2,56 persen sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Lonjakan tersebut menjadi sinyal positif bagi pembangunan di Kabupaten Sampang di bawah kepemimpinan Bupati H. Slamet Junaidi dan Wakil Bupati H. Achmad Mahfudz.
Kabid Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi (Rendalev) Bappedalitbang Sampang, Reza Bayu Julianto, mewakili Kepala Bappedalitbang Umi Hanik Laila, menyebut capaian tersebut merupakan hasil dari perencanaan pembangunan yang terukur serta fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengurangan kemiskinan.
“Pertumbuhan ekonomi Sampang yang sempat berada di angka 1,71 persen pada 2024 kini melonjak menjadi 3,45 persen pada 2025. Angka ini melampaui target RPJMD sebesar 2,56 persen dan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir,” ujar Reza, Senin (27/07/2026).
Data Bappedalitbang menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi Sampang terus bergerak naik, dari 0,29 persen pada 2021, menjadi 2,31 persen pada 2022, 2,56 persen pada 2023, turun ke 1,71 persen pada 2024, lalu kembali melonjak tajam menjadi 3,45 persen pada 2025.
Tak hanya ekonomi yang membaik, sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 66,72 menjadi 67,23, sementara Usia Harapan Hidup naik dari 73,66 tahun menjadi 73,89 tahun.
Di sisi lain, angka kemiskinan berhasil ditekan dari 20,83 persen menjadi 20,61 persen atau sekitar 213.980 jiwa. Pengeluaran per kapita masyarakat juga meningkat dari Rp9.782.000 menjadi Rp10.030.000 yang mencerminkan membaiknya daya beli.
Meski demikian, Reza mengingatkan masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan. Berdasarkan data BPS, rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas baru mencapai 5,12 tahun, yang menunjukkan sebagian besar masyarakat belum menamatkan pendidikan dasar.
Selain itu, meski angka kemiskinan terus menurun, Kabupaten Sampang masih masuk dalam kelompok daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.
“Keberhasilan ini bukan garis akhir. Justru menjadi pemacu agar kami bekerja lebih keras. Pada 2026 kami menargetkan angka kemiskinan turun lagi hingga 19,86 persen,” tegas Reza.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3,45 persen menjadi modal penting bagi Pemkab Sampang untuk mempercepat pembangunan dan mengejar target kesejahteraan masyarakat pada tahun-tahun berikutnya. (ABS)



